Cegah Tragedi Tenggelamnya Empat Anak Terulang, Polres Ponorogo Bangun Pagar Pembatas

Cegah Tragedi Tenggelamnya Empat Anak Terulang, Polres Ponorogo Bangun Pagar Pembatas

PONOROGO – Tragedi tewasnya empat bocah akibat tenggelam di sungai Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, menjadi alarm keras bagi semua pihak. Tak ingin peristiwa memilukan itu terulang, Polres Ponorogo bergerak cepat dengan melakukan pendangkalan sungai pads lokasi kejadian dan pemasangan pagar pembatas di lokasi kejadian.


Langkah cepat tersebut dilakukan sehari setelah tragedi yang merenggut nyawa empat anak pada Jumat (6/2/2026). Polisi bersama pemerintah desa serta warga setempat turun langsung ke lokasi untuk menutup potensi bahaya yang selama ini luput dari perhatian.


Kapolsek Jambon AKP Purwadi Sekiantoro mengatakan, pendangkalan dan pemagaran dilakukan sebagai bentuk upaya preventif agar sungai tidak lagi menjadi ancaman, khususnya bagi anak-anak.


“Kami bersama masyarakat Dukuh Sidowayah melaksanakan kerja bakti pendangkalan sungai sekaligus memasang pagar pembatas di lokasi kejadian. Ini dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar AKP Purwadi, Sabtu (7/2/2026).


Selain melakukan penataan fisik lokasi, pihak kepolisian juga memberikan edukasi langsung kepada warga sekitar. Orang tua diminta meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat bermain di area sungai.


“Kami juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan aktif mengawasi putra-putrinya saat berada di sekitar sungai,” tegasnya.


Sementara itu, Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo menegaskan bahwa tragedi Sidowayah harus menjadi pelajaran serius, tidak hanya bagi warga setempat, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Ponorogo.


“Kami berharap kejadian ini tidak pernah terulang. Tidak hanya di lokasi ini, tetapi juga di wilayah lain. Orang tua harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya,” kata AKBP Andin.


Seperti diketahui, empat bocah yang menjadi korban dalam tragedi tersebut masing-masing adalah Sakila Lafatunissa (5), Muhammad Alwi Assegaf (5), Arlin Anatasya Elvita Saputri (6), dan Jihan Hasna Mufida (6). Keempatnya meninggal dunia setelah tenggelam di sungai yang berada tak jauh dari permukiman warga.